PATTIDANA (Pelimpahan Jasa)

Pendahuluan

Umat Buddha sedang mengikuti acara Pattidana tgl 24 Agustus 2010 di ITBC.

Buddha bersabda; Pemberian terbesar yang dapat dipersembahkan seseorang kepada para leluhurnya yang telah meninggal adalah melakukan “Suatu Perbuatan Jasa” dan melimpahkan perbuatan itu kepada mereka. Dalam bahasa Pali pelimpahan Jasa ini disebut Pattidana, yang merupakan suatu tradisi masyarakat Buddhis, yang tidak asing lagi bagi kita semua. Tindakan ini sangat bermanfaat bagi mereka yang terlahir dialam Peta (Paradattupajivika Peta), yang memang sedang membutuhkan jasa dari sanak keluarganya. “Seperti air mengalir dari dataran tinggi kedataran yang rendah, demikian pula hendaknya jasa yang dipersembahkan (Oleh Kerabat atau keluarga) dialam manusia ini dapat ikut dinikmati oleh para makluk (Peta). Seperti air dari sungai mengalir mengisi lautan luas, demikian pula dengan jasa-jasa ini dapat ikut dinikmati oleh para Peta” (Tirokudda Sutta, Khuddaka Patha, Khuddaka Nikaya, Sutta Pitaka, Tipitaka).

Perbuatan jasa ini sering disalahpersepsikan oleh orang-orang tertentu yang bertentangan dengan Hukum Kamma yang mendeskripsikan bahwa semua makluk memiliki kammanya sendiri, mewarisi kammanya sendiri, terlahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri dan terlindung dari kammanya sendiri. Dalam pernyataan ini, pelimpahan jasa yang kita lakukan tidak menyimpang dari Ajaran karena perbuatan ini tidaklah sama seperti kita mentransfer uang lewat Bank, semakin kita transfer uang kita semakin habis uang kita yang ada disana. Pelimpahan jasa ini hanya membuat mereka ikut bermudita citta (bersimpati dengan perbuatan yang kita lakukan), sehingga mereka ikut merasa bahagia disaat kita melakukan tindakan tersebut. Maka dari itu, perbuatan ini sangat kuat kaitannya dengan orang-orang yang dekat seperti anak, keluarga dan kerabat-kerabatnya.

Historis munculnya Pattidana

Munculnya Pattidana terdapat diTirokudda Sutta, Khuddaka Patha VII, bagian dari Khuddaka Nikaya, Sutta Pitaka yang mendeskripsikan tentang pelimpahan jasa kepada makluk yang tidak kelihatan atau yang sedang dilahirkan dialam yang tidak menyenangkan (Peta). Pattidana dalam tatanan bahasa Pali berarti berdana dengan melimpahkan suatu jasa. Pengertian ini sangat jelas bahwa apa yang kita danakan kepada makluk-makluk yang lahir dialam rendan adalah jasa kita agar supaya mereka ikut menikamati apa yang kita perbuatan. Harapan kita tentunya agar mereka dapat terlahirkan dialam yang lebih baik (bahagia). Proses ini tentunya selalu indentik dengan perbuatan yang terus berulang-ulang, dalam artian kita tidak hanya melakukan tindakan itu hanya sekali atau dua kali tetapi harus dilakukan setiap kali. Kammabandhu atau hubungan kamma disini sangat mempengaruhi tindakan ini, maka orang yang melakukan perbuatan ini adalah orang-orang yang sangat dekat dengan mereka yang telah meninggal. Didalam Paramatthajotika kitab komentar dari Khuddaka Patha, disini diceritakan bahwa ada sekelompok orang dijaman Buddha Phussa yang telah mengambil sesuatu dari komunitas para bhikkhu dan sebagai akibatnya mereka terlahir dialam Peta dalam kurun waktu yang sangat panjang. Buddha kassapa, Buddha sebelum Sakyamuni/Gotama, sudah memprediksikan bahwa yang bisa menolong mereka, yang terlahir dialam Peta tadi, adalah kerabatnya sendiri yang bernama Bimbisara. Pada kehidupan Buddha Gotama , Raja Bimbisara diBenares, ibukota Magadha, mengundang Buddha karena dulu sebelum siddhatta menjadi seorang Buddha, seorang Bimbisara memohon kepadaNya bahwa setelah menjadi seorang Buddha beliau memohon untuk diajarkan apa yang telah Beliau dapatkan. Permohonan itu tidak terlupakan oleh Buddha sendiri sehingga setelah beliau mencapai sammasamboddhi beliau menuju ketempat Bimbisara tinggal untuk membabarkan Dhamma. Setelah mendengar Dhamma Raja Bimbisara mencapai Sotapanna, pemenang arus. Raja Bimbisara lalu berdana makanan kepada Buddha dan para siswanya tetapi Raja tidak melimpahkan kepada keluarganya yang terlahir dialam rendah tersebut. Lalu, mereka, makluk peta, meresa kecewa dan membuat Kerajaan Bimbisara menjadi mengerikan setiap malamnya. Karena mereka selalu mengganggu orang-orang yang ada diistana dengan menampakkan wujud yang mengerikan. Kemudian Raja Bimbisara dianjurkan oleh Buddha untuk melimpahkan apa yang dia lakukan kepada para leluhurnya. Kemudian Raja Bimbisara mengundang Buddha dan para siswanya untuk menerima dana air, makanan, kain dan tempat tinggal. Raja kemudian melimpahkan jasanya kepada makluk-makluk yang memiliki hubungan kamma dengannya. Makluk-makluk tersebut akhirnya mendapatkan manfaat dari tindakan yang luar biasa dibaktikan oleh Raja Bimbisara. Pada akhirnya, Buddha membabarkan khotbah Tirokudda Sutta yang mengenai tentang Pelimpahan Jasa tersebut.

Dengan selalu mengucapkan “Idam Vo Natinam Hotu Sukhita Hontu Natayo dan Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta” yang artinya semoga timbunan jasa ini melimpah pada sanak keluarga, semoga sanak keluarga berbahagia dan semoga semua makluk turut berbahagia. Kondisi positif ini akan lebih baik jika kita ucapkan terus menerus dengan didukung suatu tindakan yang baik. Setiap apa yang kita lakukan ucapkan kalimat itu dengan penuh kesadaran, dengan niat baik yang betul-betul muncul dari hati kita yang murni.

Kesimpulan

Pattidana adalah ungkapan rasa bhatti kita kepada para leluhur yang telah meninggal, dengan harapan mereka bisa mengenal perbuatan baik dan ikut menikmati (bermudita citta) atas kebahagiaan tersebut. Orang yang telah melakukan pelimpahan jasa tentunya akan semakin banyak mendapatkan manfaat karena mereka juga telah mengisi dirinya sendiri dengan perbuatan-perbuatan yang baik. Tentunya perbuatan-perbuatan itu adalah modal utama kita semua untuk bisa menuju arah sasaran atau target kita yang sesungguhnya. Perbuatan itulah yang menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur kita dalam meningkatkan kwalitas batin kita. Pelimpahan Jasa/ Pattidana ini harus kita lakukan untuk membuktikan kepedulian kita terhadap makluk lain termasuk diri kita sendiri karena perbuatan baik kita akan semakin kuat dan kokoh. You have to do more, more and more over in your lives. No dreams come true without your hard work and your good action. Wish all of you be happy with your good merit. Anumodana